Pemerintah, Penguasa, dan Pemimpin oleh syafruddin pernyata
Dalam setiap upacara, kita sering
mendengar aba-aba, "Hormat kepada pemimpin upacara!" Seketika seluruh
peserta memberikan penghormatan.
Biasanya, pemimpin upacara adalah
orang yang diberi kewenangan memimpin jalannya upacara. Bisa seorang kepala
dinas, kepala badan, kepala sekolah, atau pejabat lain yang mewakili
pemerintah.
Namun, sebuah pertanyaan menarik
layak diajukan. Apakah setiap orang yang berdiri di depan sebagai pemimpin
upacara otomatis merupakan seorang pemimpin?
Pertanyaan sederhana ini membawa
kita pada perbedaan yang sering luput disadari: antara pemerintah, penguasa,
dan pemimpin.
Ketiganya sering melekat pada
orang yang sama, tetapi sesungguhnya memiliki makna yang berbeda.
Secara etimologis, pemerintah
berasal dari kata perintah. Penguasa berasal dari kata kuasa. Sedangkan
pemimpin berasal dari kata pimpin.
Perintah mengandung makna
instruksi atau suruhan yang harus dilaksanakan. Kuasa mengandung makna kekuatan
atau kewenangan untuk menentukan sesuatu.
Adapun pimpin berarti menuntun,
membimbing, menunjukkan arah, dan membawa orang lain menuju tujuan tertentu.
Karena itu, secara semantis,
pemerintah bertumpu pada kewenangan, penguasa bertumpu pada kekuasaan,
sedangkan pemimpin bertumpu pada kemampuan menuntun manusia menuju tujuan bersama.
Dalam praktik sehari-hari, kita
kadang menjumpai pejabat yang menggerakkan organisasi dan sumber daya manusia
terutama dengan perintah. Instruksi demi instruksi dilontarkan. Ketika target
tidak tercapai, suara meninggi. Teguran berubah menjadi omelan. Dalam keadaan
seperti ini, yang lebih menonjol adalah fungsi pemerintahan, bukan
kepemimpinan.
Pada kesempatan lain, kita juga
dapat menjumpai pejabat yang lebih sering menggerakkan orang dengan telunjuk
kekuasaannya.
Ancaman menjadi bahasa sehari-hari.
"Apakah kamu masih mau bekerja?" atau "Saya bisa memberhentikan
siapa saja dengan tanda tangan saya." Dalam keadaan seperti ini, yang
tampil bukan kepemimpinan, melainkan kekuasaan.
Tentu saja tidak semua pejabat
demikian. Banyak pejabat yang mampu menjadi teladan dan penggerak. Namun
contoh-contoh tadi membantu kita memahami perbedaan antara memerintah,
menguasai, dan memimpin.
Memerintah dapat membuat orang
bergerak karena kewajiban. Menguasai dapat membuat orang bergerak karena
ketakutan. Tetapi memimpin membuat orang bergerak karena kesadaran.
Memerintah menghasilkan
kepatuhan. Menguasai menghasilkan ketundukan. Sedangkan memimpin melahirkan
kepercayaan.
Karena itu, idealnya setiap orang
yang diberi amanah dalam pemerintahan dan setiap orang yang memiliki kekuasaan
tidak berhenti sebagai pemerintah atau penguasa. Ia harus bertumbuh menjadi
pemimpin.
Mengapa?
Karena kekuasaan memiliki batas.
Jabatan memiliki masa berlaku.
Tanda tangan hanya berlaku selama
kewenangan masih melekat. Namun kepercayaan dapat bertahan jauh lebih lama
daripada masa jabatan.
Seorang pemimpin tidak hanya
hadir ketika memberikan arahan dalam rapat atau menandatangani keputusan.
Kepemimpinan justru tampak dalam
hal-hal yang sederhana dan dilakukan setiap hari.
Ketika seorang kepala daerah
mengajak masyarakat hidup disiplin, ia lebih dahulu menunjukkan kedisiplinan
dalam menghargai waktu.
Ketika ia mengimbau aparatur
untuk tanggap melayani masyarakat, ia sendiri memberi contoh kepekaan terhadap
kebutuhan rakyat. Ketika ia meminta pegawai bersikap ramah, rendah hati, dan
berbahasa yang baik, ia terlebih dahulu memperlihatkan keramahan, kerendahan
hati, dan kesantunan dalam tutur katanya.
Demikian pula ketika ia
menyerukan hidup sederhana, efisiensi anggaran, menjaga kebersihan lingkungan,
dan melestarikan lingkungan hidup.
Semua itu akan lebih mudah
diterima apabila masyarakat melihat bahwa ajakan tersebut terlebih dahulu
dipraktikkan oleh dirinya.
Di situlah letak perbedaan antara
memerintah dan memimpin. Memerintah mengandalkan kata-kata. Memimpin menguatkan
kata-kata dengan keteladanan.
Memerintah dapat dilakukan dengan
jabatan, tetapi memimpin menuntut keselarasan antara ucapan dan tindakan.
Karena itu, ruh kepemimpinan
sesungguhnya terletak pada keteladanan.
Ketika kata-kata berjalan seiring
dengan perbuatan, lahirlah kepercayaan. Dan ketika kepercayaan tumbuh, orang
tidak lagi bergerak karena takut kepada kekuasaan atau patuh kepada perintah,
melainkan karena yakin kepada sosok yang memimpinnya.
Idealnya, para pejabat yang
menjalankan fungsi pemerintahan sekaligus memegang kekuasaan, terutama di
Kalimantan Timur, baik Gubernur, Bupati, Wali Kota, Kepala Dinas, Kepala Badan,
maupun pimpinan lembaga lainnya, lebih mengedepankan sifat-sifat kepemimpinan.
Sebab tantangan pembangunan tidak
cukup dijawab dengan perintah dan kewenangan semata.
Perubahan zaman membutuhkan
kemampuan menginspirasi, membangun kepercayaan, menumbuhkan kolaborasi, serta
menggerakkan masyarakat menuju tujuan yang sama.
Seorang pemerintah mungkin
ditaati selama ia berkuasa. Seorang penguasa mungkin ditakuti selama ia
memiliki kekuatan.
Berita Lainnya
Kadishub Kaltim Senang Super Jet Beroperasi di APT Pranoto
SAMARINDA (22/4-2022)nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp;nbsp; Beropera ....
- editor@ivan
- 22 Apr 2022
- 564
PDB Pasti Dievaluasi, Tujuannya Mencegah Penyebaran Covid 19
SAMARINDA (7/2-2021)Pelaksanaan Kaltim Berdiam Diri di Rumah dalam dua hari terakhir (6-7/2) nbsp;da ....
- editor@ivan
- 06 Feb 2021
- 576
Dapat Amanah Dewan Pers, PWI Kaltim Bulan Juni Gelar UKW Lagi
SAMARINDA (4/3-2021)Meningkat kemampuan anggotanya,nbsp; Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalimant ....
- editor@ivan
- 04 Mar 2021
- 637
Catatan Ke Turki (5) : Kunjungi Masjid Wajib Pakai Jilbab
SEBAGAI tujuan wisatawan dunia, Turki benar-benarmemberikan kemudahan dan kenyamanan bagi wisatawan. ....
- editor@ivan
- 01 Mar 2022
- 679
Selisih 16.747 Lembar, Makin Minta MK Batalkan Perolehan Suara ASKB
JAKARTA (21/12-2020)Tak puas dengan keputusan KPU Kutim terkait hasil Pilkada Kutim tahun 2020, pasa ....


