ilustrasi
Ada sebuah pertanyaan yang
belakangan ini sering terdengar di Kalimantan Timur: benarkah pemerintah telah
menempatkan anggaran pada skala prioritas yang tepat?
Pertanyaan itu bukan lahir karena
masyarakat menolak program-program unggulan, melainkan karena muncul kesan
bahwa urusan yang menjadi kewenangan utama pemerintah daerah justru harus
dijalankan dengan ruang fiskal yang semakin sempit. Jika persepsi ini benar,
maka yang patut dievaluasi bukan hanya besarnya anggaran, melainkan juga arah
prioritas kebijakan yang melandasinya.
Untuk pendidikan tinggi, anggaran
yang disiapkan mencapai sekitar Rp1,4 triliun, sedangkan untuk operasional
pendidikan menengah—SMA, SMK, SLB, dan MA—alokasinya sekitar Rp330,8 miliar.
Fenomena serupa juga dirasakan
pada sektor-sektor lain. Di tengah keterbatasan fiskal, pemerintah harus
melakukan efisiensi di berbagai bidang.
Bukankah pemerintah provinsi
seharusnya terlebih dahulu memastikan kemudahan akses, pemerataan, dan
peningkatan mutu pendidikan menengah—SMA, SMK, dan pendidikan khusus—yang
memang menjadi kewenangannya?
Bukankah pemerintah juga harus
memastikan setiap anak berkebutuhan khusus di seluruh kabupaten dan kota
memperoleh layanan pendidikan yang layak tanpa harus menghadapi berbagai
hambatan?
Namun, dalam praktik politik
kita, wakil rakyat sering berada dalam posisi yang tidak sederhana. Mereka dipilih
oleh rakyat, tetapi berhimpun dalam fraksi. Sikap fraksi pada akhirnya
merupakan sikap partai politik.
Tidak jarang aspirasi yang dibawa
seorang anggota dewan dari daerah pemilihannya harus menyesuaikan dengan
keputusan fraksi. Dalam sistem koalisi, kesepahaman antara pemerintah dan
partai-partai pendukung memang diperlukan untuk menjaga stabilitas
pemerintahan. Akan tetapi, ketika disiplin partai lebih dominan daripada suara
konstituen, muncullah kesan bahwa wakil rakyat lebih mewakili suara partai daripada
suara rakyat yang memilihnya.
Akibatnya, kritik masyarakat
terhadap suatu kebijakan sering kali tidak memperoleh ruang yang cukup dalam
proses pengambilan keputusan.
Keadaan seperti ini tentu bukan
sesuatu yang tidak dapat diperbaiki. Partai politik dan fraksi di parlemen
tidak perlu memosisikan diri sebagai oposisi terhadap setiap kebijakan
pemerintah.
Namun, mereka juga tidak
seharusnya menjadi sekadar pembenar atas setiap program pemerintah. Koalisi
dibangun untuk menciptakan stabilitas pemerintahan, bukan untuk menghilangkan
fungsi kontrol. Justru partai politik akan memperoleh kepercayaan publik
apabila berani mengoreksi kebijakan yang kurang tepat, mengusulkan
penyempurnaan, dan memastikan setiap rupiah anggaran benar-benar digunakan sebesar-besarnya
untuk kepentingan masyarakat.
Pemerintah dibentuk oleh partai
politik, tetapi negara dijalankan untuk seluruh rakyat.
Karena itu, muncul sebuah
renungan yang mungkin terdengar sinis, tetapi layak dipikirkan. Jangan terlalu
berharap kepada wakil rakyat, berharaplah kepada ketua partai politiknya.
Sebab, jika pusat gravitasi
keputusan politik lebih banyak berada di tangan elite partai, di sanalah arah
kebijakan sering ditentukan. Namun, kita tentu berharap keadaan itu tidak
menjadi sesuatu yang permanen.
Demokrasi yang sehat adalah
demokrasi yang menempatkan partai politik sebagai penyalur aspirasi rakyat,
bukan sekadar penyangga kekuasaan. Sebab pada akhirnya, yang paling berbahaya
bukanlah ketika anggaran bergeser, melainkan ketika keberanian untuk mengoreksi
pergeseran itu ikut bergeser.(S. Pernyata)
Berita Lainnya
Bahrani : Vaksin Yang Datang Sudah Diuji Klinis
SANGATTA (5/1-2021)Vaksinasinbsp; Covid-19 terus dikampanyekan pemerintah kepada masyarakat agarnbsp ....
- editor@ivan
- 05 Jan 2021
- 670
Dihadapan tim verifikasi Geopark, Camat Bengalon sampaikan Komitmen Melestarikan Karst Sangkulirang-Mangkalihat
BENGALON (8/7)Usai mengunjungiRumah Cadar Budaya di Sangatta, tim verifikasi Geopark melanjutkan keg ....
Bupati Sri : Jangan Lupa Berau
SAMARINDA (12/11-2021) Jika bertandang ke Kaltim tak lengkap jika tidak ke Berau,karena Berau punya ....
- editor@ivan
- 12 Nov 2021
- 512
Ardiansyah : Masjid Asshabirin, Jad Ladang Amal Warga Teluk Pandan
SANGATTA (5/3-2022)Setahap demi setahap, berkat dukunganberbagai pihak, akhirnya Masjid Asshabirin D ....
- editor@ivan
- 05 Mar 2022
- 593
Hari Ini, Majelis MK Kembali Bacakan Putusan Sela PPHP
JAKARTA (16/2-2021)Setelah menggelar sidang Permohonan Perselisihan Hasil Pilkada (PPHP) Tahun 2020 ....
- editor@ivan
- 16 Feb 2021
- 1055


